Senin, 06 Desember 2010

JAMITA MINGGU ADVENT I


SERMON HKI RESORT TANAH  JAWA DAN HATONDUHAN
MINGGU ADVENT I (MINGGU, 28 NOVEMBER 2010)
Evanggelium Yesaya 32:1-8 Epistel 2 Petrus 1:1-8 P.Dasa Titah Wahyu 22:7

Pendahuluan
Nabi Yesaya hidup pada masa pemerintahan Raja Usia (785-747 SM), Yotam (745-42 SM) Ahas (741-726 SM) Hiskia (725-697 SM bnd. Yes. 1:1). Namun para ahli mengklasifikasikan periode kenabiannya dalam 3 periode berdasarkan situasi sosial-politik yang terjadi di Yehuda dan bangsa-bangsa sekitar. Periode I, mulai dari masa pemanggilan Yesaya sampai masa terjadinya Perang Siria-Efraim (747-734 SM); Periode-II,  dari Perang Siria-Efraim sampai terbuangnya Israel Utara (734-721 SM); dan Periode-III, mulai dari terbuangnya Israel Utara sampai kehancuran Jerusalem (721-700 SM).
            Nats ini terjadi pada periode ke III, yang mana kedaulatan kerajaan Yehuda sudah terdesak. Saat Yehuda terdesak secara politik disinilah letak permasalahannya (secara teologis) karena raja Israel tidak lagi bersandar pada Allah (bnd. konsep teokrasi) tetapi lebih melihat dan memilih kekuatan arus politik yang besar pada saat itu.
            Pada awal abad ke VIII SM kerajaan Asyur bangkit menjadi kerajaan yang kuat dan terus menaklukkan (imphasi) wilayah sekitar. Untuk mengimbangi keadaan ini Pekah Raja Israel Utara (Samaria) bersama Rezin Raja Aram (Damsik) bersekutu untuk melawan Asyur serta meminta Ahas Raja Yehuda untuk bergabung. Namun Ahas menolak, selanjutnya karena penolakan tersebut terjadilah perang antara Yehuda melawan Aram-Israel Utara yang dikenal dengan sebutan Perang Siria-Efraim (bnd. 2 Raj. 16:5, 2 Taw. 28, Yes. 7-8). Lalu Yehuda meminta bantuan kepada Asyur dan Asyur berhasil menduduki Damsik ibu kota Aram kemudian menaklukkan Israel Utara.
            Pada masa-masa awal setelah peperangan tersebut Yehuda dapat bertahan dan aman karena tunduk kepada Asyur. Lama-kelamaan sikap tunduk Yehuda terusik sebagaimana konsekuensi daerah jajahan Asyur. Yehuda mulai melakukan pemberontakan-pemberontakan kepada Asyur ditambah adanya dukungan dari Mesir. Yehuda mengalami kahancuran yang fatal diseluruh wilayah Yehuda yang pada masa itu dipimpin Hizkia (bnd. Yes. 36-37).
            Pada situasi demikian Yesaya mewartakan Firman Allah kepada Raja, para pemimpin dan seluruh umat Yehuda agar kembali bersandar kepada Allah. Janganlah mengandalkan kekuatan raja-raja besar seperti Asyur dan Mesir dan meninggalkan Allah. Ketidak percayaan Raja Yehuda terhadap kekuatan Allah (bnd. Konsep teokrasi) menyebabkan kehancuran bangsa itu sendiri di samping perilaku para raja dan pemimpin yang tidak benar di hadapan Tuhan (bnd. 2 Raj. 16:2-3) yang berakibat rakyat menjadi menderita-sengsara, tertindas dan teraniaya.
            Karena ketertindasan tersebut melahirkan kerinduan dan pengharapan kehadiran seorang pembebas (mesianik) yang mendalam yang dapat membawa mereka kedalam kehidupan yang baik, aman dan sejatera (bnd. Yes. 28:15).

Pembahasan Nats
Ayat 1. “Pemerintah yang benar dan adil”: ayat ini ( hen : sesungguhnya) meberikan jaminan kepastian bahwa Yehuda akan dipimpin seorang raja ‘menurut’ kebenaran dan ‘menurut’ keadilan.  Konsep kebenaran dan keadilan dimaksud ada dalam wibawa (kemuliaan) Tuhan yang tampak-terurai dalam firman dan hukum-hukum Tuhan. (bnd. Bahasa Batak : Hata dohot patik ni Debata do hasintongan. Jadi, na mangarajai hombar tu hasintongan, mandok mamarenta hombar tu hata ni Debata, hombar tu patik dohot lomo ni rohaNa.). Raja adil seseorang yang hidup dan bersekutu dengan Allah, bertolak belakang dengan raja-raja Yehuda yang melupakan Tuhan tetapi mengandalkan pertolongan raja-raja yang kuat menurut pikiran mereka. Untuk mendukung kepastian ini  dalam nats lain juga diuraikan bahwa raja yang kuat tempat pengaduan mereka juga tidak kekal justru hancur karena kelemahan dan ketidak berdayaanya. (Lih. Yes. 10:7-19, 30:31, 31:8; Yes 31:1-5).
Ayat 2. “Pemerintahan Yang Aman dan Sejahtera”: pemerintah yang menegakkan kebenaran dan keadilan secara-pasti memenangkan semua yang ada disekitarnya. Rasa aman, rasa damai dan kesejahtera sebagaimana penggambaran kiasan-kiasan dalam nats ini adalah bukti konkrit dari pemberlakuan kebenaran dan keadilan. Sebab pelbagai kejahatan, ketidakadil-benaran sering terjadi dalam suatu bangsa karena lahir dari pemimpin itu sendiri dan pembiaran oleh pimimpin itu karena mempertahankan kepentingan dirinya dan koleganya sendiri. Bila hal ini terjadi akan memicu katidak beraturan (anarkisme) secara bersamaan pemerintah akan bertindak dengan tangan besi. Sesuai nats ini, Semua itu akan berlalu ketika Raja adil tiba dan pemimpin menjadi tempat berlindung dari segala persoalan dan kekacauan yang selalu menghadang.
Ayat 3. “Pemerintahan propetik” nats menggambarkan Raja adil akan dapat hidup dan bertindak sebagaimana nabi menerima dan melaksanakan tugas-tugasnya.  (bnd. Somal do digoar panurirang di halak Israel paralatan, partondung, penglihat,   lih. Jes.29:10; 30:10; 1 Sam.9:9.) Pemerintah yang jahat biasanya akan berusaha menutupi segala pelanggaran dan ketidak adilan yang dilakukannya dengan berbagai kebohongan. Alai di hadadabu ni sandok bangso i tu hajahaton, jotjot do masa ndang adong be panurirang na ungkap mata dohot pinggolna tu alatan dohot hata na sian Debata. Molo tung adong pe na manggoari dirina panurirang, angka pargapgap do, sipaotooto; parmata na rambon dohot parpinggol na penge. Alai di pamarentaon ni raja hatigoran na hombar tu hasintongan na naeng ro i dohot angka induk na manggomgomi hombar tu uhum i paheheon ni Debata do angka panurirang parmata dohot parpinggol na ungkap tu alatan dohot tu hata na sian Ibana. Na marlapatan ma i, mulak denggan muse parsaoran ni bangso i tu Debata, jala sai dapotan ajar nasida sian alatan dohot hata na sian Ibana i.
Ayat 4. “Pemerintahan yang punya hati dan jujur” Yesaya menegaskan ketika Raja Adil datang kelak “hati” akan dipakai untuk menimbang-nimbangi persoalan dan “lidah” akan berbicara jelas dan tegas. Hati dan lidah melambangkan keberanian, kebenaran dan kejujuran. Keputus yang ditetapkan sudah didasari oleh  kebenaran dan kejujuran.
Ayat 5-7. “Pemerintah Yang Benci Kekebalan” pada dasarnya pemimpin bebal dapat saja memerintah secara keji dan licik mementingkan dirinya sendiri. Perilaku yang penuh dengan kepura-puraan untuk menutupi segala tindakan  niat jahat yang tersembunyi di dalam dirinya. Hatinya tidak pernah tergerak untuk membantu orang-orang yang menderita kemiskinan dan kelaparan.
Ayat 8. “Pemerintahan yang berbudi luhur  Raja adil digambarkan seorang yang berbudi luhur bertolak belakang dengan orang bebal. Kebebalan akan tersingkirkan dan kebenaran akhirnya mengalahkan kejahatan. Keadilan dan kebenaran menjadi karakter orang-orang yang bersekutu dengan Tuhan. Karakter bukan karena keterdesakan atau karena tuntutan sekitar tetapi sudah menjadi totalitas dirinya atau menjadi jati dirinya.

Renungan Khotbah
Nasts ini menggambarkan kedatangan Allah bertemu (bersekutu) dengan umatNya dalam diri Yesus Kristus melalui kelahirnnya (adventis) dan kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali pada akhir zaman (eskatologis). Pengharapan baru dalam tatanan yang lama (adanya proses rekonstruksi)

Kepemimpinan dalam semua sendi sering mengandalkan kekuatan sementara untuk kepentingan sementara berakibat kehancuran.  Melupakan Tuhan sebagai landasan pengambilan segala keputusan dan tindakan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Loading...
SELAMAT DATANG