Rabu, 08 Desember 2010

PANDUAN BUDIDAYA JAHE PENGALAMAN PETANI


PANDUAN BUDIDAYA JAHE
PENGALAMAN PETANI
Jahe paling bagus ditanam pada tanah yang subur dan gembur banyak mengandung bahan organis (humus). Jahe merupakan tanaman yang mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Tanaman jahe merupakan tanaman yang membutuhkan banyak sinar matahari dan tempat terbuka. Jika kurang mendapat sinar matahari atau terlindung dari sinar matahari maka daunnya akan tumbuh lebar-lebar tetapi rimpangnya  kecil-kecil. Jahe membutuhkan banyak air tetapi tidak tergenang. Salah satu kunci yang paling utama dalam budidaya jahe adalah dalam pemilihan bibit. Sebaiknya bibit langsung diambil dari lahan (bukan dari pasar), sehingga kita tahu keadaan bibit yang sebenarnya saat tumbuh di atas lahan.

Ciri-ciri bibit jahe yang baik,
§  Dipilih bibit dari tanaman yang sudah tua (berumur 10-12 bulan)
§  Dipilih dari tanaman yang sehat dan kulit rimpang tidak terluka atau lecet, tidak berlendir dan busuk, tidak berbintik-bintik baik bagian dalam maupun luar.
§  Ukuran bibit “stek rimpang” sedikitnya memiliki 3 mata tunas, panjang 3-7 cm, berat 25-80 gr/potongan.
§  Jumlah bibit satu rante sebanyak 80 kg – 100 kg.
§  Sebaiknya bukan berasal dari tanaman jahe yang menggunakan pupuk dan pestisida kimia (buatan pabrik)

Penanaman jahe
Tanaman jahe termasuk tanaman monokotil, berakar serabut serta panjang akarnya mencapai ±10-35cm. Pengolahan tanah yang terlalu dalam kurang menguntungkan karena akan menyulitkan bibit untuk bertunas serta menyulitkan pada waktu pembongkaran disaat panen. Pengolahan tanah dengan bedengan/bumbunan cocok apalagi untuk tanah yang rawan atau mudah tergenang air. Bedengan yang biasa digunakan yaitu tinggi 20-30cm, lebar 80-100cm (panjang disesuaikan dengan kondisi lapangan). Pada bedengan dibuatkan lubang-lubang kecil atau alur-alur sedalam 3-7 cm untuk tempat menanam bibit. Jarak tanam tergantung kepada kesuburan tanah tetapi yang biasa dilakukan adalah 30-60 cm (jarak maksimal). Bagi tanah yang tidak mudah digenangi air, tanah cukup digemburkan dan jarak tanam sama dengan yang memakai bedengan.
Penanaman dilakukan dengan meletakkan rimpang bibit secara rebah kedalam lubang tanam atau alur yang sudah disiapkan. Sebaiknya bibit yang sudah tumbuh/bertunas jangan terlalu lama baru kemudian ditanam, hal ini mengakibatkan adanya pengurangan hasil karena waktu untuk pengembangan rimpang di dalam tanah berkurang. Tanaman jahe biasanya  ditanam secara tumpang sari dengan bawang merah, cabe, sayur-sayuran dan lain-lain. Tanaman jahe yang sudah berumur 2-3 minggu dilakukan penyisipan terhadap bibit yang tidak tumbuh/mati atau tidak sehat dengan memilih bibit yang bagus dan disertai dengan pemeliharaan yang intensiv agar tidak terlampau ketinggalan dengan tanaman/jahe terdahulu.
Penyiangan jahe dilakukan setelah umur 2- 4 minggu, kemudian penyiangan dilakukan kembali pada umur 5-6 minggu atau tergantung kepada kondisi gulma yang tumbuh. Penyiangan dilakukan dengan mengurangi rumput atau gulma yang ada disekitar batang jahe dengan memperhatikan sekecil mungkin melakukan pencabutan rumput.gulma yang ada disekitar pokok, atau penyiangan dilakukan dengan cara mengurangi tinggi rumput/gulma dengan memotong rumput/gulma saja, yang tujuan sebagai mulsa untuk mempertahankan kelembaban, karena bila penyiangan dilakukan dengan mencabut rumput dikuatirkan akan mengganggu akar atau rimpang jahe. Penyiangan terhadap jahe sebaiknya dihentikan setelah umur jahe 6-7 bulan, karena pada masa tersebut jahe sudah memasuki tahap pekembangan yakni rimpang dan sangat peka terhadap gangguan akar (dapat mudah busuk).
Pembumbunan tanah pada bedengan atau tanaman jahe dilakukan untuk menutupi/menimbun rimpang jahe, selain itu juga agar tanah disekitar tanaman jahe gembur. Tanah untuk pembumbunan diambil dari sekitar tanaman jahe dengan jarak ± 30 cm dari rumpun/tanaman jahe (menghindari terganggunya akar). Pembumbunan dilakukan sebanyak 2-3 kali, tetapi jika kondisi  tanah longgar cukup 2 kali saja. Pembumbunan pertama dilakukan pada waktu tanaman jahe membentuk rumpun yang terdiri atas 3-4 batang semu.
Pemberian mulsa dilakukan fungsi untuk menekan pertumbuhan gulma, melindungi dari teriknya matahari (mengurangi penguapan air), menahan derasnya air hujan, menjaga stabilitas suhu disekitar tanaman dan memperbaiki kondisi fisik tanah. Mulsa yang digunakan berupa jerami padi, sekam, daun kelapa, dan segala macam rumput-rumputan kering dan bekas potongan rumput pada waktu penyiangan. Cara pemberiannya cukup diletakkan/dihamparkan diatas tanah atau bedengan yang ditanami jahe.
Pemberian kompos dilakukan 2 kali (atau seperlunya dengan melihat banyaknya tanah  bedengan yang jatuh atau berkurang akibat hujan) yaitu pada saat tanam dan pada saat pembersihan pertama dengan cara ditanam di dalam tanah. Jumlah kompos yang diberikan tergantung banyaknya kompos yang tersedia, tetapi 1 kg/pohon sudah cukup jika mutu komposnya baik (kompos dipastikan telah masak dan telah dicampur dengan kulit tanah atau seresah). Jahe siap dipanen umur 10-12 bulan dengan ciri-ciri, daun hijau berubah kuning dan dan batang semu mengering, jahe juga dapat dipanen  umur 9 bulan dengan kualitas jahe sayur (panen muda), hal ini dilakukan bila jahe terlihat terkena serangan hama dan penyakit dengan pertimbangan untuk menghindari busuk total akibat terserang hama - penyakit.
Pemupukan dengan menyemprotkan pupuk dan pestisida selaras alam dengan perbandingan selera petani (biasanya 3-5 cangkir/1 tanki). Penyemprotan dilakukan sambil berjalan, alat penyemprotan yang digunkan adalah gembor). Metode penyemprotan sambil berjalan yang dilakukan bertujuan untuk menghindari agar jahe tidak terlalu basah atau lembam, karena bila terlalu basah dapat menyebabkan tanah lembab dan memungkinkan terjadinya busuk pada  rimpang atau umbi jahe. Penyemprotan dilakukan 1 kali dalam dua atau tiga hari, yaitu mulai dari penanaman  hingga menjelang pemanenan. Selain berfungsi sebagai pupuk, pupuk dan pestisida selaras alam juga berfungsi sebagai pestisida atau pengusir/pencegah hama dan penyakit.
Produksi jahe dari wilayah Samosir cukup potensial, baik dari segi kualitas (mutu) dan juga dari kuantitas (jumlah) hasil panen  yang cukup banyak. Hasil tanaman jahe satu rante  minimal rata-rata 700-800 kg, ada juga yang mencapai 1 (satu) ton bahkan lebih. Jahe dari wilayah Samosir umumnya cukup keras, tidak mudah lecet, warna kulit kuning kecoklatan dan  cerah. Ada juga yang tidak terlalu keras, biasanya berasal dari tanah yang sangat gembur.


Analisis Usaha
Untuk mengetahui apakah tanaman jahe di wilayah Samosir cukup menguntungkan, mari kita bahas mengenai hasil rata-rata yang diperoleh dan juga biaya–biaya yang dikeluarkan dalam bertanam jahe. Analisa usaha ini biasanya juga menentukan seberapa besar produksi yang harus dikeluarkan agar jumlah pendapatan sama dengan jumlah yang dikeluarkan, atau dengan kata lain titik pulang modal (BEP = Break Event Point).
Sebelum kita menghitung BEP, terlebih dahulu kita mengestimasi pendapatan.
Prediksi hasil minimal/rante diwilayah samosir 700 – 800 kg dengan prediksi harga Rp.1800 – Rp.2000,-
5 rante x 800 kg x Rp.2.000,-                                      Rp.8.000.000,-
5 rante x 700 kg x Rp.2.000,-                                      Rp.7.000.000,-
5 rante x 800 kg x Rp.1.800,-                                     Rp.7.200.000,-
5 rante x 700 kg x Rp.1.800,-                                      Rp.6.300.000,-

Maka pendapatan yang diperoleh dari 5 rante jahe dengan hasil 800 kg/rante dengan harga Rp.2000,-, adalah sebagai berikut.
Penjualan 4000 kg @ Rp.2000,-                                 Rp.8.000.000,-
Total modal                                                                 Rp.3.435.000,- (-)
Pendapatan ………………        ……………………… Rp.4.565.000,-  


a. Analisa Break Even Poin (BEP)
Analisis break even poin  (BEP) adalah suatu teknik untuk mengetahui pada volume produksi berapakah  usaha kita tidak mengalami kerugi dan tidak mengalami  keuntung/ laba. Untuk menghitung BEP perlu diketahui biaya tetap, biaya variable dan volume kegiatan
Biaya tetap (fixed cost) adalah biaya yang besarnya secara total akan tetap konstan walaupun volume kegiatan berubah. Sedangkan biaya variable (variable cost) adalah biaya yang naik turunnya bersama-sama dengan perubahan volume kegiatan. Berikut ini adalah analisa tanaman jahe wilayah Samosir seluas 5 rante
§  Fixed Cost (FC)
- Sewa tanah/lahan                                                       Rp.200.000,-
  Subtotal                                                                       Rp.200.000,-
§  Variable Cost (VC)
- Ongkos angkut bibit + bahan-bahan                          Rp.  200.000,-
- Bibit  500 kg @Rp.2.500,-                                          Rp1.250.000,-
-        Kompos :
-          3.200 kg pupuk kandang (kering) Rp.   100.000,-
-          120 kg dedak kasar                       Rp      60.000,-
-          120 kg sekam padi (sobuon)         Rp      30.000,-
-          4 m2 daun-daunan hijau                Rp      20.000,-
-          6 kg gula merah                            Rp      30.000,-
-          20 buah nenas                               Rp      30.000,-
-          Tenaga: 2 hari x 8 orang              Rp    240.000,-
                                                         Rp    510.000,-
- Pestisida Alternatif  50 liter @Rp.1500,-                    Rp     75.000,-
- Tenaga kerja 8 Orang x 10 hari @ Rp.15.000,-         Rp.1.200.000,-+
Subtotal                         Rp.3.235.000,-
§  Total Cost (TC) = FC + VC                                        Rp.3.435.000,-
§  Nilai Penjualan (Sales = S)                                          Rp.8.000.000,-

v  Dengan asumsi rata-rata produksi/rante 800 kg dan harga/kg Rp. 2.000,- maka titik pulang modal (BEP) akan tercapai pada volume penjualan :
 =            FC
                        1 - VC
                              S
 =              Rp. 200.000,-
                        1 – Rp.3.235.000,-
                              Rp.8.000.000,-
 =        Rp.335.781,7
atau pada saat penjualan mencapai 167,8 kg
v  Dengan asumsi rata-rata produksi/rante 700 kg dan harga/kg Rp. 1.800,- maka titik pulang modal (BEP) akan tercapai pada volume penjualan :
 =            FC
                        1 - VC
                              S
 =              Rp. 200.000,-
                        1 – Rp.3.235.000,-
                              Rp.6.300.000,-
 =        Rp. 411.092,98
atau pada saat penjualan mencapai 228,38 kg

b.Benefit-Cost Ratio (B/C ratio)
Pada  dasarnya B/C ratio memperhatikan apakah dengan suatu pengorbanan tertentu akan diperoleh manfaat. Usul investasi akan diterima atau dikatakan layak dikembangkan jika B/C ratio mempunyai nilai lebih dari 1 (satu). Tanaman jahe 5 rante dengan hasil Rp. 6.300.000,- s/d Rp 8.000.000,- dengan biaya Rp.3.435.000 layak dikembangkan, karena jika dilakukan akan memperoleh keuntungan. Perhitungannya sebagai berikut :
v  Dengan asumsi rata-rata produksi/rante 800 kg dan harga/kg Rp.2.000,- maka Benefit/Cost Ratio-nya adalah sebagai berikut :
B/C ratio   =  Manfaat yang telah dinilai sekarang         
                      Pengorbanan yg telah dinilai sekarang.
B/C ratio   =   Rp.8.000.000,-      
                       Rp.3.435.000,-
                  =   2,33
Jadi B/C ratio sebesar 2,33, berarti usaha bertanam jahe dengan modal Rp.3.435.000,- memperoleh hasil penjualan sebesar 233 % dari modal yang dikeluarkan.
           
v  Dengan asumsi rata-rata produksi/rante 700 kg dan harga/kg Rp.1.800,- maka Benefit/Cost Ratio-nya adalah sebagai berikut :
B/C ratio   =  Manfaat yang telah dinilai sekarang         
                      Pengorbanan yang telah dinilai sekarang.
B/C ratio   =   Rp.6.300.000,-      
                       Rp.3.435.000,-
                  =   1,83
Jadi B/C ratio sebesar 1,83, berarti usaha bertanam jahe dengan modal Rp.3.435.000,- memperoleh hasil penjualan sebesar 183 % dari modal yang dikeluarkan.
Dengan kata lain untuk usaha budidaya jahe + 5 rante dengan modal (biaya produksi) + Rp.3.435.000,- akan diperoleh keuntungan antara Rp. 2.865.000,- s/d Rp. 4.565.000,-.

1 komentar:

Loading...
SELAMAT DATANG