Kamis, 09 Desember 2010

WANITA SEBAGAI IBU


WANITA SEBAGAI IBU

Memulai pemaparan ini, terlebih dahulu kami mendefenisikan istilah “wanita” dan “ibu” untuk memudahkan kita memahami dan menyamakan pemahan berdasarkan tujuan penulisan ini.  Sebab banyak istilah-istilah yang dipergunakan untuk menyebutkan manusia berdasarkan jenis kelamin. Misalnya, perempuan, gadis, wanita, ibu, mama, putri, dll, semunya itu menunjukkan manusia berjenis kelamin betina. Selanjutnya, apakah wanita dapat juga disebut Ibu ? Atau sebaliknya, apakah ibu sudah pasti memiliki anak ? Apakah sifat ibu/keibuan hanya dimiliki oleh mereka yang berjenis kelamin perempuan ? Dan banyak pertanyaan lain yang menyangkut hal tersebut. Namun berdasarkan judul tulisan ini kami hanya mendefenisikan pemakaian istilah “wanita” dan “ibu” .

A. Defenisi Wanita
Asal kata “wanita”  (bhs. Inggeris : woman) adalah : vani  atau vanitai/ Desire (bhs. Sansekerta)  dalam bahasa Indonesia diartikan  “keinginan”. Jadi wanita mengandung makna sesuatu yang selalu diinginkan. Arti konotasi dari kata ini ialah wanita sebagai objek seks, selalu diinginkan (Sanskrit – English Dictionary ; Sir Monier Williams, Delhi Varanasi, Motilal Banarsidas, 1981). Menurut definisi dalam Kamus Bahasa Indonesia disebutkan, perempuan adalah orang (manusia) yang mempunyai vagina, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak dan menyusui. Sedangkan wanita adalah perempuan yang berusia dewasa atau dapat dikatakan wanita adalah menggambarkan perempuan dewasa. Wanita juga sebutan yang digunakan untuk spesies manusia berjenis kelamin betina. Sedang lawan jenisnya adalah pria. Dapat kita simpulkan bahwa wanita adalah perempuan dewasa berjenis kelamin betina lawan jenis pria yang memiliki konotasi sebagai objeks seks kaum pria. Itu sebabnya gerakan perjuangan perempuan tidak memakai istilah wanita tetapi sebagai gerakan perempuan.  Tetapi di sini kita mendefenisikan wanita adalah sebagai perempuan dewasa yang menitik beratkan kepada sifat ke-ibu-an secara fungsional dalam tanggungjawabnya.

B. Defenisi Ibu 
Istilah ibu berasal dari kata “empu” (bhs. Sansekerta) artinya yang mulia, dihormati, membimbing, mengasuh. Ibu juga dapat dikatakan wanita yang telah melahirkan seseorang; sebutan sebutan untuk wanita yg sudah bersuami; dan juga panggilan yg lazim kepada wanita baik yang sudah bersuami maupun yang belum. Sedang dalam kata sifat ke-ibua-an adalah lemah lembut, penuh kasih sayang, dsb); dan biasanya sifat perasaan lebih cepat tumbuh pada anak perempuan. Ibu adalah orang tua perempuan seorang anak, baik melalui hubungan biologis maupun sosial. Umumnya, ibu memiliki peranan yang sangat penting dalam membesarkan anak, dan panggilan ibu dapat diberikan untuk perempuan yang bukan orang tua kandung (biologis) dari seseorang yang mengisi peranan ini. Contohnya adalah pada orang tua angkat (karena adopsi) atau ibu tiri (istri ayah biologis anak). Dapat kita simpulkan bahwa ibu adalah perempuan dewasa yang lebih menonjol pada sifatnya sebagai yang mulia, dihormati, membimbing, mengasuh. Atau dapat dikatakan sebagai guru, penuntun yang penuh kasih sayang dan perawat walaupun tidak semata-mata dibatasi oleh hubungan biologis.

7.1.1. Fungsi Keibuan
Seorang ibu pasti akan merasa senang dan bangga bila berhasil menjadi idola bagi anaknya. Bagaimana tidak, karena sebagai idola berarti tokoh ibu menjadi sosok yang disenangi atau dicita-citakan oleh anak. Sebagai sosok idola maka karakter ibu menjadi suatu hal yang melekat dalam jiwa anak dan sangat berpengaruh atau berperan dalam kehidupan anak. Dengan menjadi idola, seorang ibu akan lebih mudah untuk mengarahkan anaknya, sekaligus juga sebagai suri tauladan bagi sang anak guna pengembangan potensi-potensinya di kemudian hari.  Sosok ibu yang secara kodrati "dekat" dengan anak - karena telah melahirkan, merawat dan menyusui anaknya - ternyata tidak secara otomatis bisa menjadi tokoh idola anak. Penyebab utamanya biasanya terletak pada kurangnya ketrampilan dan wawasan pengetahuan ibu dalam mengurus dan membesarkan anak. Adanya perbedaan karakter tiap anak, perbedaan usia dan tahapan perkembangan anak serta perbedaan zaman menuntut adanya wawasan pengetahuan yang luas, kesediaan diri untuk terus memperbaiki diri, kreativitas serta ketrampilan seorang ibu dalam memberikan pengasuhan yang terbaik bagi anak-anaknya.
Untuk menjadi ibu yang diidolakan anak, memerlukan proses berkesinambungan yang dilandasi oleh kemauan serta kasih sayang yang besar. Oleh karena itu peranan Ibu terhadap anak-anaknya di rumah sebagai pendidik dan pengayom pertama sebelum masuk pendidikan formal, yang sangat berarti dalam perkembangan dan pertumbuhan segala potensi anak. Seorang ibu yang mampu memberikan pendidikan awal (basic education) yang benar yaitu pendidikan moral (moral education) dan pendidikan pengembangan potensi pikir dan kreativitas sejak dalam lingkungan keluarganya, maka anak tersebut akan cepat menyesuaikan kondisi di luar lingkungan keluarganya dan mampu melakukan penajaman dan pencerahan pemikiran secara cepat. Terlebih seorang anak yang dibekali pendidikan moral (akhlak) sejak kecil oleh orang tuanya terutama ibu yang banyak waktu bersamanya, anak tersebut tidak cepat terpengaruh dan terjerumus dalam pergaulan bebas yang kontroversial dengan norma-norma yang telah ada maupun ajaran agama.
Anak akan selalu teringat dengan pesan-pesan moral yang baik sepanjang hidupnya. Bobroknya moral yang dialami oleh seorang anak karena krisis moral, tidak mampu melakukam penyaringan budaya yang tidak membangun. Banyak anak yang kita temukan secara materi tercukupi tetapi gersang dengan kasih sayang dan pendidikan moral. Sehingga batin mereka kosong, dengan mudahnya akan terisi dengan ajakan pergaulan bebas, pecandu narkotika dan putus sekolah karena tak ada lagi gairah belajar.
Seorang anak akan bergerak sesuai dengan zamannya sehingga pendidikan moral sangat signifikan sebagai bekal melawan pengaruh negatif dari luar. Optimalisasi fungsi control orang tua juga sangat diharapkan sampai anak-anak mampu mambawa dirinya dan tidak larut dalam kondisi secanggih apapun. Dengan demikian seorang ibu wajib memiliki kecukupan ilmu pengetahuan untuk dapat mengarahkan anak-anaknya kepada kebaikan dan serta suri tauladan yang baik di hadapan anak-anaknya. Perilaku dan kebijakan seorang ibu sangat tergantung pada tingkat pendidikan dan pengalamannya. Zaman dengan secepat mungkin dapat berubah sehingga menuntut seorang ibu yang tanggap dan cerdas dalam menuntun anak-anaknya, sehingga krisis moralitas bangsa dapat teratasi.
Para remaja tidak lagi terjerumus dalam kehidupan yang glamor, tetapi mereka akan berkembang menjadi anak-anak yang cerdas dan kreatif serta taat dan patuh terhadap Sang Pencipta. Berikut ini ada beberapa tips yang dapat ibu-ibu lakukan :
1.       Selalu berusaha mendekatkan diri pada anak dengan selalu menjalin interaksi dan komunikasi yang positif dan akrab dengan anak. Misalnya berbincang-bincang bersama mengenai hal-hal yang dialami anak di sekolah pada hari itu, di mana ibu sekaligus bisa menggunakan momen tersebut untuk menyelipkan pesan moral di dalamnya.
2.       Tanggap dan sensitif terhadap kebutuhan-kebutuhan fisik anak yang dirasa penting - tanpa diminta anak - namun tetap harus disesuaikan dengan kemampuan keuangan yang ada. Misalnya saja mengganti kaos kaki anak yang sudah kendur, mengupayakan asupan makanan yang bergizi namun disukai anak, melengkapi peralatan sekolah anak, dsbnya. Dengan cara ini, anak merasa sangat "istimewa" diperlakukan demikian sehingga merasa nyaman dan bangga memiliki ibu.
3.       Menampilkan sifat-sifat khas seorang ibu, yang telah dianugrahkan Tuhan seperti sifat "keibuan", lemah lembut dan mengayomi sehingga kebutuhan psikologis anak seperti rasa aman, nyaman dan kasih sayang dapat terpenuhi. Kemampuan ibu untuk memenuhi kebutuhan psikologis anak, di samping kebutuhan fisiknya, membuat ibu menjadi sosok yang sangat dibutuhkan, dikagumi sekaligus disenangi anak.
4.       Menyediakan waktu untuk bersama-sama anak menikmati berbagai aktivitas yang menyenangkan anak, seperti bermain di lingkungan rumah, rekreasi ke pantai, dan sebagainya. Kebersamaan yang terjalin akrab akan membuat anak bahagia dan merasakan bahwa kehadiran ibu merupakan sosok yang menyenangkan baginya.
5.       Bersedia menjadi tempat "curhat" bagi anak. Menjadi pendengar yang baik bagi anak sehingga anak bisa bebas mengekspresikan perasaan-perasaannya. Pahami pola fikir anak sesuai dengan tahapan usianya, berusaha untuk empati dan menerima anak apa adanya, menghindari kritikan yang berlebihan, celaan atau sesuatu yang membuat anak merasa tak nyaman, terancam, terpojok dan selalu disalahkan.
6.       Memperluas wawasan pengetahuan dan ketrampilan dalam pengasuhan anak, misalnya melalui membaca buku, ikut seminar tentang pengasuhan anak, konsultasi dengan para ahli yang berpengalaman dalam pengasuhan anak atau dengan ibu-ibu yang dianggap telah berhasil menjadi tokoh idola bagi anaknya, dsb. Dengan bertambahnya wawasan dan informasi, diharapkan akan membimbing ibu untuk mampu bertindak bijaksana, berfikir kreatif dalam menghadapi masalah-masalah yang muncul dan mampu memberikan yang terbaik bagi anaknya, sehingga anak benar-benar merasakan manfaat adanya ibu, misalnya ibu bisa menjadi sumber inspirasi dan pemberi semangat bagi anak.
7.       Bersedia untuk introspeksi atau terus memperbaiki diri agar tercipta kedekatan dengan anak. Hindari sikap merasa paling benar dan tidak peduli terhadap pendapat atau kritikan anak karena hal ini justru akan membuat ibu "jauh" dari anak.
8.       Tidak biarkan anak terlalu banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang dapat memperkecil kesempatan ibu menjalin interaksi dengan anak dan menanamkan nilai-nilai yang baik bagi anak. Misalnya dengan tidak  membiarkan anak menonton TV terlalu lama tanpa didampingi ibu, bermain games komputer terus menerus, dsb. 

7.1.2. Sifat Keibuan
Sifat keibuan merupakan sifat yang lazim dimiliki seorang wanit, sifat tersebut mendorong seorang wanita untuk bersikap lemah lembut, penuh kasih saying dan ketulusan, tapi dari kesemuanya itu tidak menutup kemungkinan seorang wanita/ibu tidak memiliki sifat keibuan.  Walaupun berpredikat sebagai ibu, mereka tak memahami arti penting dan indahnya sifat- sifat keibuan, seperti sabar, melindungi, kasih sayang, ketulusan dalam memberi, kesetiaan total, tetapi tanpa pernah merasa kehilangan dirinya saat mencintai orang lain.
Orang modern tak sedikit yang gelisah dan mencari sifat-sifat tersebut, namun kebanyakan gagal. Karena keputusasaan, kemudian muncul alkoholisme, ketagihan narkoba, kompulsi seksualitas, dan bunuh diri.  Kasus bunuh diri seorang ibu telah menggambarkan dengan jelas bagaimana seorang ibu telah terlampau banyak kehilangan sifat-sifat keibuan, sampai tak sadar bahwa dirinya masih banyak dibutuhkan keluarga dalam kehidupan yang kian makin rumit seturut perkembangan zaman.
Menumbuhkan sifat-sifat keibuan memang bukan suatu hal yang mudah, apalagi bagi kaum ibu yang sedang dilanda kemiskinan. Padahal, sifat-sifat keibuan melahirkan sikap konstruktif, yang amat dibutuhkan setiap orang yang ingin membebaskan dirinya dari belenggu kemiskinan.  Jika seorang ibu memiliki sifat-sifat keibuan dan mampu mengimplementasikannya dalam hidup keseharian, maka cepat atau lambat, juga mampu membebaskan diri dari kemiskinan karena sifat-sifat keibuan memang mengarah pada pembentukan sikap mental (mental attitude) yang positif, konstruktif, dan produktif.
Sikap mental positif tersebut jelas berpotensi untuk meraih kesuksesan yang sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuan seseorang. Dengan sifat-sifat keibuannya, seorang ibu bukan hanya mampu memotivasi diri untuk hidup sukses dan bahagia, bahkan ia juga mampu memotivasi putra-putrinya agar kelak menjadi manusia yang berguna bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, dan bangsanya.  Seseorang dengan sifat-sifat keibuan sudah tentu memiliki sikap mental agar kesuksesan dan kebahagiaan dirinya juga dapat dialami atau bahkan dikembangkan orang lain, termasuk oleh putra-putrinya sendiri, dan sikap mental ini merupakan indikasi kecerdasan emosi yang belum tentu dimiliki oleh seseorang yang ber-IQ tinggi.  Sifat-sifat keibuanlah yang mampu memotivasi seorang ibu sebagai pendidik sekaligus pengajar anak-anaknya. Bahkan, Dr Zakiah Daradjat, seorang ibu yang juga psikolog, mengatakan bahwa pendidikan anak sudah berlangsung sejak ia masih dalam kandungan. Implementasi sifat keibuan di sini adalah seorang istri yang hamil perlu berkomunikasi dengan jabang bayi sebelum ia dilahirkan. Karena, menurut hasil riset, sejak bayi dalam kandungan berumur tiga bulan secara psikis sudah memberikan respons terhadap pembicaraan maupun sikap ibu kandung yang ditujukan kepadanya. 
Sifat-sifat keibuan ternyata mampu mencetuskan EQ seseorang. Kecerdasan emosi ini telah dibuktikan para ahli dalam risetnya sebagai faktor kepribadian yang lebih menentukan kesuksesan dibandingkan dengan kecerdasan otak (IQ = intelligence quotient) seseorang.  Sebuah iklan susu untuk balita juga menunjukkan kehebatan anak dengan kriteria bisa menghitung perkalian, bukan kemampuan dia bersosialisasi dengan lingkungannya. Ibu-ibu akan sangat bangga saat anaknya menjadi juara kelas, meski untuk mencapai prestasi itu ia harus belajar nonstop tanpa punya waktu untuk membantu orangtuanya menyapu, mencuci piring, dan sebagainya. Akibatnya, di dalam diri sang anak mulai tertanam anggapan bahwa prestasi publik lebih membanggakan daripada prestasi domestik, inteligensi kognitif lebih berharga daripada inteligensi emosional dan sosial.

7.1.3 Relasi ibu dan Anak
Keibuan itu bersangkutan dengan relasi ibu dengan anaknya, sebagai kesatuan fisiologis, psikis dan sosial. Relasi tersebut dimulai sejak si janin ada dalam kandungan ibunya, dan dilanjutkan dengan proses proses fisiologis berupa masa hamil, kelahiran, periode menyusui dan memelihara si upik atau sibuyung. Semua fungsi fisiologis tersebut senantiasa dibarengi dengan komponen komponen fisiologis. Namun secara individual menujukkan adanya perbedaan, karena sifat – sifat kepribadian setiap individu wanita berbeda.  
Pengalaman-pengalaman sebagai seorang ibu tersebut menumbuhkan tugas-tugas kewajiban serta reaksi-reaksi emosional yang khas, baik yang bersifat positif (umpama kebahagian), maupun yang bersifat negatif, misalnya kecemasan dan ketakutan tertentu. Sifat-sifat keibuan itu secara garis besar bisa digolongkan dalam dua ide, yaitu:
1) Kualitas tertentu dari karakter dan keperibadian wanita yang bersangkutan.
2) Gejala emosional pada wanita tersebut, yang bersumber pada ketidak berdayaan bayi dan anak, sebab bayi atau anak selalu bergantung dan membutuhkan pertolongan serta pemeliharaan, terutama dari ibunya.
Sifat-sifat keibuan yang unggul itu dimiliki oleh para wanita yang feminin sifatnya, yang memiliki keseimbangan antara tendansi-tendansi narsisme yang sehat dan sangat mendukung harga dirinya, dengan tendensi-tendansi masokhisme  (bnd. Semakin terseksi atau menderita tetapi semakin mencintai), sehingga wanita tersebut bersedia berkorban diri dan mencintai anak keturunannya. Keinginan yang kuat (narsistis) dari wanita untuk dicintai oleh kekasih atau suaminya itu kini mengalami proses metamorfose atau perubahan bentuk, yaitu ditransformasikan dalam bentuk dorongan untuk mencintai anaknya. Dalam hal ini keinginan narsistis itu berubah menjadi wujud cinta-kasih wanita tersebut sebagai ibu terhadap anaknya.
Cinta-kasih ibu ini sering dibarengi oleh perasaan dedikasi (kebaktian, membaktikan diri) pada anaknya dan pengorbanan sebesar-besarnya. Pada tipe wanita yang barsifat sangat narsistis, intensitas kasih-sayangnya terhadap anak-anaknya menjadi semakin berkurang dengan semakin besar serta makin dewasanya anak-anaknya, dan tidak banyak memerlukan lagi pertolongan serta rawatan ibunya. Komponen-komponen masokhistis pada sifat keibuan tadi diekspresikan dalam bentuk kesediaan untuk berkorban diri demi kebahagiaan anaknya, tanpa meminta balas-jasa bagi segala jerih payahnya. Oleh kasih-sayangnnya yang tiada terbatas besarnya terhadap anak-anaknya. Ibu tersebut bersedia menanggung segala macam duka-derita, kalau saja semua pengorbanan dan kesenduannya itu bisa menumbuhkan (menyebabkan timbulnya) kebahagiaan, keselamatan dan kelangsungan hidup anaknya.
Dengan segala upaya ibu tersebut akan berusaha melindungi anaknya dari segala macam mara bahaya yang bersifat lahiriah maupun batiniah, memberi makan yang cukup. Juga memberikan arena bermain yang teduh dan aman guna bereksplorasi bagi anaknya, agar anaknya bisa mengembangkan diri. Semua kegiatan dalam bentuk menyusui, memberi makan, memberikan perlindungan, serta kesediaan membela anaknya itu diudukung kuat oleh dorongan-dorongan instiktif dan filogenetis (perkembangan dari jenis tanaman atau binatang selama berabad-abad). Intrinsik keibuan itu handaknya dibedakan dengan cinta-kasih keibuan. Cinta-kasih keibuan yang semula bersifat istinktif alami atau kodrati, dalam perkembangannya kemudian banyak diubah dan dikondisikan oleh peristiwa-peristiwa psikologis dan pengalaman yang individual ataupun universal. Sehingga cinta-kasih keibuan tadi lambat laun sifatnya lebih sosio-kultural.
Intrinsik keibuan itu mempunyai sumber-sumber utama pada komponen khemis bilogis yang tumbuh secara alami, berbareng dengan eksistensi janin yang dikandungnya. Bahkan dorongan instinktif ini sering juga sudah timbul sejak masa gadis. Instink-instink alamiah ini tidak nampak jelas dalam masyarakat manusia yang berbudaya, dan sering terpendam di bawah kepribadian individual, serta pengaruh lingkungan, terpendam di bawah semua kehidupan psikis manusia.
Ciri utama instink wanita ini ialah : kelembutan (tenderness). Semua bentuk tindakan dan sensualitas seksual yang cukup sehat, di kemudian hari akan diwujudkan (ditranformasikan) dalam bentuk kasih sayang pada anaknya; yaitu merupakan bentuk emosi yang khas terhadap keturunannya. Selanjutnya transformasi itu pada umumnya akan diwujudkan dalam upaya membela dan melindungi secara mati-matian terhadap anaknya dari segala macam mara bahaya. Kondisi fisiologis atau jasmaniah seorang wanita ketika mengandung ibunya, serta ketidak-berdayaan sang bayi yang menuntut perlindungan dan pertolongan dari ibunya, kedua hal ini menggugah secara aktual pola-pola instink pada pribadi ibu tersebut untuk melindungi anaknya,yang sebenarnya sudah ada secara laten sejak masa gadis.
Tidak dapat disangkal bahwa aktivitas yang didorong oleh komponen instinktual ini banyak berkaitan dengan fungsi reproduksi. Karakter dan intensitas dari impuls-impuls instinktual tadi berbeda pada setiap individu; yaitu bergantung sekali pada perbedaan konstitusi seluruh kepribadian. Pada sisi yang lain seorang anak cenderung lebih dekat dengan ibunya, daripada dengan ayahnya, karena seorang ibu lebih peka terhadap sifat dan sikap anak. Seorang ibu juga memilki waktu yang relative lebih banyak untuk bersama dengan anaknya ketimbang seorang ayah yang tugasnya difokuskan pada pencarian nafkah. Relasi antara ibu dan anak bisa terjalin dengan baik apabila adanya pengertian dan pemahaman ibu terhadap sikap-sikap yang dimiliki anaknya. Komunikasi juga merupakan faktor penting dalam terwujudnya relasi yang sehat tersebut. Dan tidak kalah penting adalah adanya waktu yang cukup untuk bersama, sehubunga dengan era globalisasi sekarang dengan adanya emansipasi wanita dengan pemahaman wanita lebih banyak berada di luar rumah untuk urusan karier.
Berikut adalah contoh kasus hubungan ibu dan anak yang kyrang baik. L Anak lelaki pertama saya, ia selalu bikin masalah atau keributan (trouble) di rumah. Kadang kala ketika ia merasa jengkel dengan alasan yang kurang jelas, ia tiba-tiba akan memutuskan telepon, atau menyembunyikan modem komputer. Padahal saya sangat memerlukan data komputer dan telepon untuk kebutuhan urusan dagang. Saya pedagang hasil bumi, sudah tujuh tahun menjanda karena ayah L meninggal dunia. Anak itu aneh sekali, kamarnya selalu terkunci, sering mengurung diri di kamar berjam-jam, tanpa komunikasi. Sampai umur segitu dia belum mandiri, masih tergantung pada saya, dan kalau saya suruh bantu dagang, dia kelihatan malas-malasan, tidak seperti adik- adiknya. Apa dia sakit jiwa, ya," demikian J (60), ibu dari enam anak. 
Dari dua ungkapan “tidak seperti adik-adiknya dan “sakit jiwa” kita dapat merasakan adanya landasan relasi ibu-anak yang kurang sehat karena dipenuhi oleh sikap negatif, curiga, bahkan kebencian satu sama lain, yang berkembang dari hari ke hari. Tuduhan demi tuduhan dari pihak ibu, dan reaksi balasan-balasan yang sifatnya destruktif memiliki makna agresivitas terselubung. Kadar basic trust (kepercayaan dasar) yang seyogianya melandasi relasi ibu-anak sudah terkikis. Kondisi relasi yang semacam ini mungkin saja terbangun karena kekecewaan-kekecewaan, perasaan gagal, serta pengalaman traumatik yang dialami baik ibu dan anak laki-lakinya.
Namun, tampaknya kasih ibu belum hilang, bahkan tidak akan pupus begitu saja, karena dengan menyertai anak tersebut mencari pertolongan psikologik, merupakan pertanda masih tersisa kasih ibu yang dalam, yang selama ini terselubung oleh omelan-omelan serta cercaan ketidakpuasan akan perilaku anakya. Ibu menyadari bahwa ada sesuatu yang kurang beres dalam relasinya dengan anak laki-lakinya.  Pemahaman dan pengertian merupakan penyertaan rasa kasih yang sangat diperlukan dalam menjalin relasi ibu-anak yang sehat. Artinya, seorang ibu seyogianya menyadari bahwa setiap anak membawa talenta yang individual. Menghargai talenta individual anak akan membuat ibu tidak tercekam dalam penilaian negatif terhadap anak tertentu dan positif terhadap anak yang lain. Karena hal itu akan mengobarkan iklim persaingan yang tidak sehat di antara anak-anaknya. Dengan penghargaan akan talenta anak, peluang anak untuk mengatasi persaingan antar-saudara akan menjadi lebih besar. Kecuali akan terjalin relasi yang nyaman di antara anak-anak dan ibu, anak pun tidak akan merasa tersisih, terkucilkan, dan terlecehkan keberadaannya. Dengan kasih ibu yang tidak akan pernah sirna, maka dapat diprediksi bahwa perbaikan relasi akan efektif bila upaya perbaikan relasi dimulai dari pihak ibu. 
Dari pemaparan tersebut dapat kita ambil benang merah bahwa masalah-masalah penting yang harus dihadapi wanita dalam melaksanakan fungsi reproduksi itu dimulai dengan kehamilan dan kelahiran bayi, sampai pada pemeliharaan anak; salah satu kesulitan pokok dalam pelaksanaan tugas ialah:  Berkonpliknya kepentingan spesies (demi melenggangkan spesies manusia). Maka tugas paling berat bagi ibu muda tersebut ialah: menciptakan unitas atau kesatuan yang harmonis di antara diri sendiri dengan anaknya. Dengan kata lain, ibu tersebut harus mampu “memanunggalkan diri” atau mengidentifikasikan diri secara selaras dengan bayi dengan anaknya. Jika ibu tersebut mengapdikan diri sepenuhnya pada tugas-tugas memelihara spesies manusia secara ekslusif, maka pasti dia akan kehilangan individualitasnya. Oleh karena itu, pada zaman kebudayaan modern sekarang, wanita lebih leluasa untuk mengadakan kompromi di antara melaksanakan fungsi keibuannya dengan pengembangan EGO sendiri. Sehingga dia lebih bebas dalam memuaskan kebutuhan-kebutuhan bayinya serta lebih giat mengembangkan interest dan kepribadian sendiri. Kompromi tersebut tercapai oleh adanya kenyataan, bahwa fungsi dirinya itu tidak melulu sebagai pengembang speciesnya saja; akan tetapi feminitasnya baru bisa berkembang dalam satu konteks cultural yang memberikan kebebasan pada dirinya untuk memekarkan kepribadiaannya (sebagai ibu dan sebagai pribadi atau individu).
Tugas-tugas keibuaan untuk mengabdi pada proses pelestarian species itu berlangsung sejajar dengan usia serta perkembangan anaknya, misalnya saja semua kegiatan ibu pada periode pertama dari bayinya akan terpusat pada pemeliharaan jasmani bayinya, khususnya pada kegiatan menyusui. Pada saat tersebut, dorongan untuk mempertahankan unitas dengan bayinya ternyata sangat kuat, dan usaha untuk melindungi bayinya mencapai titik kulminasi. Tugas selanjutnya dari ibu ialah: mendidik anaknya. Sebab di samping pemeliharaan fisik, kini ia harus melibatkan diri dalam menjamin kesejahteraan psikis anaknya, agar anaknya bisa mengadakan adaptasi terhadap lingkungan sosial. Ibu harus terus menerus melatih anaknya, agar anak mampu mengendalikan instingknya, untuk bisa menjadi manusia yang beradab sebab, jika si anak terlalu “di loloskan” atau dibiarkan lepas bebas serta dikuasai oleh dorongan-dorangan instinktifnya yang primitifnya maka ia bisa menjadi liar, tidak terkendali dan tidak berdisiplin. Namun sebaliknya apabila ibu tadi terlalu banyak melarang anaknya dengan macam-macam tabu dan pantangan, maka oleh inhibisi-inhibisi tersebut mungkin akan terhambat perkembangan si anaknya atau pada kasus lain anak lalu mengembangkan pola yang neorotis. Memang tidaklah mudah mengasuh dan mendidik anak. Bahkan ilmu pengetahuan modern pada zaman sekarang tidak akan mampu memberikan resep-resep isntan atau ampuh untuk mempersiapkan ibu-ibu mudah menjadi pengasuh dan pendidik yang sempurna.

7.1.4. Ibu Tiri dan Ibu Angkat
A. Ibu Tiri
Salah satu sebab, anak-anak itu menjadi piatu; yaitu karena ditinggal pergi oleh ibunya; atau ibunya meninggal dunia. Kemudian, kedudukan ibu yang melahirkan anak tersebut ditempati oleh wanita lain seiring pernikahan ayahnya. Secara otomatis wanita pengganti, memiliki otoritas penuh dalam menjalankan semua hak dan kewajibannya sebagaimana ibu kandung si anak selama hidup bersama. Wanita pengganti tadi menjadi istri baru ayahnya atau hidup berdiam-bersama dengan ayah dari anak tersebut.
Pada masa ini, ada beracam-macam ceritera dan legenda tentang ibu tiri yang ganas-jahat kita jumpai pada hampir setiap bangsa di dunia. Critera-ceritera itu memberikan gambaran tentang penderitaan dan kesengsaraan yang harus dialami oleh anak tiri, serta penampilan kekejaman ibu tiri dalam menyiksa dan menyakiti anak tirinya. Bahkan tidak jarang ibu tiri ini berusaha dengan segala macam daya dan akal untuk menyingkirkan dan membunuh anak tirinya.
Maka perumpamaan yang menyatakan bahwa ibu tiri itu suka “ menggodok anak tirinya dalam kuali panjang “ yang sangat populer di tengah masyarakat kita, memang mendekati realitas nyata. Hal ini menujukkan bahwa dalam kenyataanya, ibu tiri itu sering menyebabkan azab sengsara kepada anak-anak tirinya. Motif utama semua tingkat keganasan ibu tiri ini terutama didasari oleh iri hati dan dengki. Misalnya ibu tiri tersebut sama sekali tidak menghendaki suaminya memberikan kasih-sayang kepada anaknya sendiri. Sebab ia ingin memonopoli suaminya . Ibu tiri itu selalu berusaha dengan cara-cara yang licik untuk menyingkirkan dan menyisihkan anak gadis tirinya; dan selanjutnya mengangkangi semua hak dan preorogatif yang menjadi milik anak tirinya untuk diri sendiri.
Kita telah memahami, bahwa sikap wanita terhadap anak-anaknya hingga pada usia remaja sengat besar mempengaruhi perkembangan emosi dan fantasi anak terhadap pengasuhnya. Bahkan pada masa perkembangan tersebut, anak-anak sering menirikan perilaku ibu tiri baik itu secara sadar ataupun tidak sadar menggunakan gaya masokhistis sebagai anak tiri; sedang kawan atau kakaknya memerankan fungsi ibu tiri yang kejam. Ada pula gadis-gadis cilik yang suka bermain-main sebagai ibu tiri yang ganas terhadap adik-adiknya atau terhadap bonekanya, karena iyaa marah dan membenci ibunya. Dari hal ini dapat kita lihat, apakah seorang wanita itu kelak menjadi seorang ibu tiri yang baik atau menjadi ibu tiri yang ganas, tidak hanya tergantung pada konstitusi psikis wanita itu sendiri, akan tetapi juga dipengaruhi oleh semua faktor lingkungan sosialnya. Karena itu ibu tiri bukan satu fenomena yang terisolasi atau berdiri sendiri akan tetapi gejala ibu tiri itu hendaknya difahami secara psikologis dalam relasinya dengan lingkungan dan keluarganya; yaitu dengan ayah, nenek-kakek, ibu, atau ibunya yang sudah meninggal, kakak-kakak, adik dan lain sebagainya.
Pada sisi yang lain ketika ibu tiri diposisikan berperilaku negatif ternyata banyak  juga wanita memposisikan dirinya baik secara sadar atau tidak mencari calon suami yang telah ditinggalkan isteri sbelumnya. Ada wanita-wanita yang selalu berminat pada pria yang sudah kawin saja terutama pada pria yang sudah mapan atau lebih mapan. Jika keinginan itu terwujut, si wanita akan merasa senang sekali dengan catatan dia berpokus pada kesenangannya sendiri. Ada pula wanita yang didorong oleh motivasi-motivasi egoistis yang selalu cenderung untuk merebut suami orang lain guna menunjukkan kelebihan dirinya, misalnya dia merasa lebih cantik, lebih pintar, lebih pandai bermain seks dan lain-lain kepada dunia luar. Adapula tipe wanita yang sangat berminat pada duda-duda yang mempunyai anak-anak piatu, sebab didorong oleh perasaan iba. Biasanya wanita-wanita sedemikian ini pada mulanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Misalnya, karena wanita itu tidak mampu melahirkan seorang bayi sebab mandul. Oleh karena ingin diperistri oleh seorang duda dari kelas menengah, sehingga status sosial wanita tersebut bisa terangkat keatas.

B. Ibu Angkat
Ibu angkat adalah seorang wanita yang mengadopsi anak (mengambil anak) baik satu atau lebih dikenal atau tidak orang tua anak tersebut karena didasari oleh keinginan memiliki anak. Secara umum keinginan seorang wanita untuk menjadi ibu (ibu angkat) tidak dapat  terkabul karena ia mandul dan tidak bisa melahirkan seorang bayi. Tetapi sebelumnya adalah lebih baik bila kita melihat kebelakang   kenapa wanita tersebut mengangkat beberapa orang anak. Atau apakah sebabnya sampai wanita ini tidak bisa melahirkan seorang anak ?  Ada beberapa alasan yang dapat kita pertimbangkan antara lain: a) Ketakutan sendiri untuk menjalani fungsi-fungsi biologisnya. b) Mau mengeksploitir kepuasan-kepuasan seksual saja, tanpa bersedia menanggung resiko punya anak. c) Tipe wanita anrogynus yang mengingkari tugas-tugas reproduktif dan ingin memiliki seorang bayi menurut konsepsi dan fantasi sendiri. d) Kecenderungan-kecenderungan homoseksualitas atau lesbian. e) Fantasi-fantasi parthenogenetis yang ingin melahirkan seorang bayi tanpa pertolongan atau lantaran seorang pria. f) Ketegangan-ketegangan batin yang neurotis sifatnya; dan lain-lain. Semua alasan tersebut di atas dapat memberikan dorongan kepada ibu-ibu steril untuk melakukan adopsi terhadap seorang bayi atau seorang anak.
Pada pihak lain, walaupun seorang wanita memiliki kehidupan psikis dengan sifat-sifat maternal sejati, namun ada kalanya oleh sesuatu hal dapat menjadi steril dan tidak dapat melahirkan anak sendiri. Hal ini diistilahkan dengan mandul yang sering sifatnya menjadi tragis. Wanita sipenderita merasakan kegetiran hati bahkan tidak jarang menjadi frustasi yang tak terpecahkan. Tetapi apabila wanita tersebut siap dan mampu mengalihkan mengkompensasi dambaan melahirkan anak sendiri jalan paling ringkas ditempuhnya dengan mengadopsi atau mengangkat seorang anak. Pada sisi ini ibu berperan karena didasari oleh dambaan memiliki anak dalam bentuk pelindung anak yakni dengan memberikan perlindungan, perawatan, dan kasih sayang yang tulus pada anak tersebut. Wanita ini akan menganggap anak tersebut sebagai subtitut dari anak kandung sendiri. Maka seorang ibu angkat itu benar-benar akan bisa menempati kedudukannya sebagai seorang ibu kandung dengan penuh kasih sayang dan sifat-sifat maternal, yang bisa menerima dengan hati ikhlas walau kondisi fisik steril. Si wanita akan dapat mengembangkan kehidupan emosionalnya sesuai dengan kondisi anak-anaknya. Apabila ia mampu mengembangkan sifat-sifat feminin-masokhitis maternal dirinya dengan sendirinya ia akan dapat dan bersedia untuk berkorban-diri, serta mengapdikan diri.
Reaksi psikis seorang anak angkat ini terutama sekali bukan bergantung pada faktor asalnya,dan saat ia dilahirkan oleh ibunya sendiri. Akan tetapi justru banyak bergantung pada kondisi milieunya yang sekarang; antara lain berupa kondisi finansial, kondisi intelektual,dan norma-norma etis yang dianut oleh ibu dan ayah angkat tadi. Namun faktor paling penting ialah; kondisi kehidupa psikis ibu angkatnya. Sebab,sejak anak itu diangkat oleh wanita tersebut, pengaruh wanita inilah merupakan faktor tunggal yang akan membentuk ciri-ciri-fisik dalam kondisi psikis anak angkat tersebut.
Untuk memahami ibu angkat tersebut sebagai idividu ataupun sebagai tipe Wanita, marilah kita pelajari dua faktor yang terdapat pada wanita tersebut, yaitu:
1) Kapasitas-kapasitas keibuan/maternal wanita ini dalam relasinya dengan anak angkatnya.
2) Motivasi-motivasi tertentu yang mendorong wanita tersebut mengakat seorang bayi atau anak seorang wanita lain baik sebelumnya dikenal atau tidak.
Mengenai motivasi yang menjadi pendorong bagi upaya adopsi itu juga sangat bervariasi, sebanyak pikiran dan perasaan manusia. Misalnya saja, seorang perawan tua yang merasa terpaksa memungut seorang anak, karena anak tersaebut membutuhkan seorang ibu-pengganti akan mempunyai alasan yang berbeda dengan seorang isteri yang mandul namun ingin melaksanakan fungsi keibuannya secara instinktif dengan memungut seoarang bayi. Motivasi seorang bibi yang harus mengadopsi kemenakannya, karena ia adalah satu-satunya keluarga yang masih ada, akan berbeda dengan motivasi seorang wanita kaya namun tidak beranak, dan ingin memungut anak sebanyak mungkin untuk menunjukkan martabat kekayaannya; dan saeterusnya. Memang, proporsi paling besar(jumlah paling banyak) keluarga yang memungut anak ialah : pasangan-pasangan yang kawin, namun tetap steril keadaanya. Oleh karena itu “psikologi dari ibu-ibu angkat” ini sebagian besar oleh : Motif-motif psikologis kemandulan atau sterilitasnya, dan Reaksi psikisnya terhadap kemandulan dirinya. Motif-motif psikologis itu antara lain: 1) Kecemasan dan ketakutan yang luar biasa besarnya, tapi sering tidak disadari terhadap fungsi reproduktif atau fungsi melahirkan anak. Kecemasan ini lebih dominan daripada keinginan menjadi seorang ibu. 2) Sifat yang sangat infantil, sehingga secra tidak sadar ia merasa tidak mampu memikul tanggung jawab sebagai seorang ibu. 3) Secar emosional dia terlalu dicekam oleh interest-interest dan minat diluar tugas keibuannya; misalnya sangat aktif dibidang ilmu pengetahuan, seni, politik,sosial, dan lain sebagainya. 4) Relasinya dengan suami dianggap begitu indah-syahdu dan memuaskan sehinggan ia merasa takut akan terganggu oleh kehadiran anak-anak mereka. Karena itu, wanita tadi ingin mempertahankan status-quonya, yaitu tidak mau melahirkan bayi. 5) Wanita itu begitu cinta dan menyayang suaminya, sehingga ia tidak sampai hati membebani suaminya dengan tugas-tugas baru sebagai AYAH. 6) Peringatan dan larangan dari ibu si wanita ketika ia masih gadis, kini masih saja jelas terngiang-ngiang sebagai obsesi. Yaitu berupa larangan atrau peringatan yang menyatakan, bahwa hubungan seksual itu adlah tabuh, dan perbuatan dosa. Sehingga wanita itu selalu dicekam oleh perasaan-perasaan berdosa dan kecemasan batin apabila melakukan senggama dengan suaminya. Peristiwa sedemikian ini bisa mengakibatkan: sterilitas dirinya. 7) Wanita yang bersangkutan dihinggapi fantasi-fantasi neurotis; yaitu merasa bahwa kesucian dirinya dilanggaroleh “perbuatan-perbuatan larangan dan dosa” sewaktu melakukan coitus dengan suaminya. Ketegangan-ketegangan batin dan kecemasan yang timbul oleh karenanya justru menstimulir kemandulannya. 8) Wanita yang sangat matriarkhal, dominan, dan suka memerintah. Ia menganggap suaminya sebagai seorang “bayi” yang harus dilindunginya; dan menganggap suaminya tidak kompeten untuk menjadi ” jantan pemacek” 9) Ada kutukan-kutukan herediter tertentu, sehingga menyebabkan kemandulan dirinya. 10) Penyiksaan-diri (terhadap diri sendiri) oleh sifat-sifat yang hypernarsistis, sehingga wanita yang bersangkutan tidak mau mengakui kemandulannya. Dan dengan biaya serta korban apapun juga ia ingin melahirkan seorang bayi; seklalipun dirinya tidak mampu melakukan hal itu (ada semacam obsessi). Jika seorang wanita sudah sungguh-sungguh berniat untuk mengangkat seorang anak pungut, dan ia mampu mengatasi atau mengalahkan kesepuluh motif psikologis yang dituliskan diatas serta motif-motif neurotis yang tidak disadari lainnya, maka pastilah ia akan bisa menjadi seorang ibu angkat yang baik.

7.1.5. Kesimpulan
Wanita adalah seorang perempuan dewasa yang juga sifat keibuan. Bagi orang yang memiliki anak sifat-sifat keibuaan itu akan semakin jelas dalam perannya sebagai ibu dari anak-anak dan pendidik. Fungsi sebagai ibu dan pendidik bagi anak-anaknya bisa dipenuhi dengan baik, bila ibu tersebut mampu menciptakan iklim psikis yang gembira-bahagia dan bebas; sehingga suasana rumah tangga menjadi semarak, dan bisa memberikan rasa aman, bebas, hangat, menyenangkan, serta penuh kasih-sayang. Iklim psikologis penuh kasih-sayang, kesabaran, ketenangan, dan kehangatan itu memberikan semacam vitamin psikolagis yang merangsang pertumbuhan anak-anak menuju pada kedewasaan.
Keluarga memberikan pada wanita arena bermain dan jaminan sekuritas untuk melaksanakan fiungsi-fungsi kewanitaanya. Selanjutnya semakin mantap wanita memainkan pelbagi peranan sosial tersebut di atas, semakin positif dan semakin produktiflah dirinya. Kesuksesan dalam memainkan peranan-peranan tersebut memberikan rasa puas bahagia dan kestabilan jiwa dalam hidupnya.
Bahwasanya ada banyak wanita yang sangat menderita dan tidak bahagia dalam perkawinan, sebenarnya bukan disebabkan oleh status perkawinan itu, akan tetapi disebabkan oleh: tidak siap dan kurangnya kemampuan wanita tersebut memainkan beberapa peranan ganda yang berbeda-beda dalam status perkawinan. Kemampuan tersebut tidak hanya diperlukan dalam kondisi perkawinan saja, akan tetapi juga berlaku pada setiap kondisi kehidupan manusia. Maka agar wanita mampu melaksanakan macam-macam peranannya, diperlukan: kedewasaan psikis.
Kedewasaan psikis mengandung arti ” memiliki emosi yang stabil, bisa mandiri (zelfstanding, bisa berdiri diatas kaki sendiri), menyadari tanggung jawab, terintegrasi segenap komponen kejiwaan, mempunyai tujuan dan arah hidup yang jelas, produktif-kreatif, dan etis-religius. Melalui kedewasan psikis tersebut akan dicapai kebahagiaan, kestabilan-keseimbangan jiwa dan kebahagian hidupnya.
Pada dasarnya tugas seorang ibu mencakup memelihara anak, mendidik serta mengasuh anak yang merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seorang ibu. Dalam mesyarakat juga dikenal adanya ibu tiri, di mana sudah menjadi imej bahwa seorang ibu tiri itu merupakan sosok yang kejam, jahat dan bersikap tidak adil sehingga kebanyakan orang khusunya anak-anak tidak menginginkan adanya ibu tiri. Selain dari ibu tiri ada juga yang disebut dengan ibu angkat, yaitu seorang wanita yang tidak bisa melahirkan seorang anak sehingga dia berkeinginan untuk mengangkat seorang anak dengan mengadopsi. Hal ini dilakukan untuk menghadirkan seorang anak yang dapat memberikan keceriaan dalam keluarga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Loading...
SELAMAT DATANG